Selasa, 16 Maret 2010

Yang Penting Ketawa…Hah…Hah…Haaa (Mbah Surip)

Di balik penampilannya yang eksentriks dan tingkahnya yang asal-asalan, Urip Ariyanto atua yang biasa dikenal “Mbah Surip” adalah sosok yang konsisten dan pantang menyerah. Pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 5 Mei 1949, ternyata juga sosok seniman yang memiliki kemampuan merangkai kata membentuk filosofi. Paling gak terlihat di lagunya yang sekarang menjadi hits “Tak Gendong”.

Musik sederhana dan lirik yang simple dan mudah dinyanyikan membuat karya Mbah Surip mudah dikenal dan diingat, bahkan dinyanyikan anak kecil. Gak heran, seniman penggemar kopi hitam ini memiliki penggemar multi usia. Tapi jangan salah, dalam setiap karyanya, Mbah Surip selalu memberikan pesan-pesan social serius, meski sering dibawakan dengan gaya kocak dengan ketawa yang menjadi icon seniman jebolan komunitas Bulungan ini.

Lagu “Tak Gendong” misalnya, konon lagu ini terinspirasi dari filosofi bis kota. “Lagu ini terinspirasi dari filsofi bis kota. Dimana angkutan rakyat ini sering mengantar siapa saja. Pencopet, anak sekolah, karyawan, jambret dan semua. Yang artinya menolong tanpa pamrih, meski yang kita tolong itu baik atau jahat,” jelasnya. Sebagai catatan, meski baru ngetop saat ini, lagu “Tak Gendong” ternyata sudah lahir lebih dari 20 tahun yang lalu dan sering dibawakan Mbah Surip dalam setiap kesempatan manggung.

Jika kita jeli, pria yang kerap berpenampilan “Ratafarian” ini sempat juga tampil di beberapa sinetron. Peran jadi preman yang galak menjadi langganan pria murah ketawa ini. Selain itu, si Mbah Surip juga sempat mendapatkan penghargaan rokor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk kategori menyanyi terlama.

Sebelum menjadi seniman, Mbah Surip menjalani berbagai macam profesi. Mulai pekerjaan dibidang pengeboran minyak, tambang berlian bahkan lelaki yang memiliki gelar Drs, Insinyur, dan MBA ini pernah mengadu nasib di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda demi kemajuan saya